Rumah Teladan
Rumah merupakan taman pendidikan pertama, dimana di
dalam rumah inilah seorang anak tumbuh dan berkembang. Jika rumah ini menjadi
taman pendidikan yang baik, maka rumah ini akan menghasilkan pohon yang baik
dan buah yang menggiurkan. Sebaliknya, jika rumah ini menjadi lingkungan yang
buruk, yang dikelilingi bencana dan pencemaran, maka rumah ini akan menimpakan
bahaya dan keburukan kepada seluruh penghuninya. Lebih dari itu, bahaya dan
keburukan itu pun akan menimpa orang-orang yang berada di sekitar rumah ini.
Oleh karena itu, jika Anda ingin membuat anak Anda
mencintai Al-Quran, maka jadikanlah rumah Anda sebagai rumah yang patut
dijadikan teladan dan contoh yang baik, bagi orang yang akan berinteraksi
dengan Al-Quran, dimana di dalam rumah ini harus ada penghormatan yang
sungguh-sungguh kepada Al-Quran.
Ketika Al-Quran digemakan di dalam rumah ini, maka ia
harus digemakan dengan suara yang indah
dan menyejukkan. Ia tidak boleh digemakan dengan suara
yang lebih keras daripada apa yang dibutuhkan pendengarnya, agar gema Al-Quran
ini tidak menyakiti orang lain. Jika di dalam sebuh rumah Anda menemukan
perilaku yang bertentangan dengan apa yang terkandung dalam Al-Quran, maka akan
Anda temukan bahwa penghuni rumah itu melaksanakan perintah Al-Quran tanpa ada
keseriusan atau kesungguhan, dan hal itu akan menimbulkan berbagai permasalahan
bagi anak-anak.
Jadi, cinta seorang anak kepada Al-Quran sangat
berhubungan dengan karakteristik dan kondisi rumah. Benarkah rumah itu merupakan
rumah yang patut dijadikan teladan? Atau mungkinkah rumah itu berada di jalur
yang berseberangan dengan teori-teori yang dikemukakan penghuninya?
Dalam hal ini, ada banyak model rumah, antara lain :
- Rumah yang penghuninya tidak peduli kepada Al-Quran dan pernah membacanya. Namun demikian, untuk membuat anak-anak mereka dapat menghafal Al-Quran, mereka mempunyai prinsip-prinsip yang penting bagi mereka. Mereka berusaha memasukkan anak-anak ke taman-taman pendidikan Al-Quran, agar anak-anak mereka mau menghafal dan mempelajari Al-Quran. Namun mereka lupa akan keutamaan rumah mereka sendiri. Oleh karena itulah, rumah ini tidak dianggap sebagai teladan yang baik, dalam rangka membuat anak-anak mencintai Al-Quran dan senantiasa terkait dengannya.
- Rumah yang penghuninya mengambil ajaran-ajaran Islam (dan mempraktekkannya) secara sulit dan bukan secara mudah, menyikapi sejumlah permasalahan agama dengan fanatisme, dan bersikap kaku dalam permasalahan-permasalhan ini, sehingga hubungan antar mereka berubah menjadi hubungan yang penuh dengan ketegangan dan emosionalitas tinggi. Ketegangan ini tersebar di dalam rumah dan di kalangan anak-anak. Ayah sangat fanatic dalam mendorong penghuni rumah agar mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak, namun pengajaran ini dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan pertumbuhan, karakteristik, kemampuan dan kecenderungan anak-anak. Oleh karena itulah, pada tahap berikutnya muncul berbagai permasalahan yang akan menghambat sampainya perasaan cinta Al-Quran ke dalam hari anak-anak.
- Rumah yang penghuninya melupakan Al-Quran, sehingga Al-Quran pun melupakan mereka. Bahkan mereka membuat sesuatu yang menggantikan Al-Quran, berupa lagu dan musik. Jika anak-anak didorong untuk mendengarkan musik dan lagu, maka secara sengaja ataupun tidak sengaja, di dalam hati mereka akan tertanam perasaan cinta kepada musik dan lagu tersebut dikalangan sahabat dan orang-orang dekatnya. Oleh karena itulah, rumah ini dianggap sebagai rumah yang buruk, yang akan menghambat tersebarnya perasaan cinta kepada Al-Quran di dalam hati orang lain.
- Rumah yang baik dan kondusif, dimana penghuninya mencintai dan mengamalkan Al-Quran, sekaligus menerjemahkan rasa cinta kepada Al-Quran itu dalam perilakunya, sehingga arahan-arahan Al-Quran akan menjelma dan nyata dalam kehidupan mereka. Di antara arahan Al-Quran yang mereka praktekkan adalah kasih sayang, saling mencintai, dan hidup dengan penuh ketenangan. Oleh karena itu, anak-anak pun akan merasa bahwa Al-Quran mempunyai keutamaan yang sangat besar dalam menyebarkan perilaku yang baik, membentuk mereka menjadi sosok yang mencintai Al-Quran, dan memenuhi kebutuhan pribadi mereka. Di rumah inilah mereka dapat tumbuh dalam kondisi mencintai Al-Quran.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete